Pekanbaru Duduki Peringkat Pertama Kota dengan Kualitas Udara Terburuk di Indonesia, AQI Capai 208
Pekanbaru – Kualitas udara di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, terpantau berada pada level yang tidak sehat. Berdasarkan data yang ditampilkan laman pemantauan kualitas udara IQAir pada Selasa (25/8/2026) sekitar pukul 15.57 WIB, Pekanbaru menempati peringkat pertama dalam daftar kota di Indonesia dengan nilai AQI US sebesar 208.
Angka tersebut menempatkan kualitas udara Pekanbaru dalam kategori sangat tidak sehat (Very Unhealthy) berdasarkan skala AQI US. Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas udara sedang berada pada tingkat yang dapat memberikan dampak terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang sensitif.
Dalam tangkapan layar tersebut, Pekanbaru berada di posisi pertama dengan AQI 208, disusul Pontianak, Kalimantan Barat, dengan AQI 186 dan Jambi dengan AQI 182. Selanjutnya Palembang mencatat AQI 177, Serpong 163, Tangerang Selatan 158, Jakarta 156, Palangkaraya 155, Tangerang 113, dan Bandung 88.
Tingginya indeks kualitas udara tersebut menjadi perhatian bagi masyarakat Pekanbaru, khususnya mereka yang memiliki aktivitas di luar ruangan. Masyarakat diimbau untuk lebih memperhatikan kondisi udara sebelum melakukan aktivitas, terutama ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara perlu lebih berhati-hati. Penggunaan masker dan mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan dapat menjadi langkah pencegahan ketika kualitas udara memburuk.
Kondisi kualitas udara dapat berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, masyarakat disarankan memantau perkembangan indeks kualitas udara secara berkala melalui sumber pemantauan kualitas udara sebelum beraktivitas di luar rumah.
Catatan: Data dalam berita ini merujuk pada situs IQAir yang menunjukkan kondisi sekitar pukul 15.57 WIB pada Selasa, 25 Agustus 2026. Nilai AQI bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai kondisi cuaca, aktivitas pembakaran, serta faktor lingkungan lainnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.